MATERI DAY 1
MATERI 1 : Prof. Yudi Latif, MA.,Ph.D
Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia
TEMA :Kehidupan Berbangsa, Bernegara, Jati Diri Bangsa, dan Pembinaan Kesadaran Bela Negara
Indonesia baru saja memperingati 80 tahun kemerdekaan, sebuah pencapaian besar karena bangsa ini berhasil meraih kebebasannya dengan perjuangan sendiri, bukan pemberian penjajah. Indonesia bahkan menjadi pelopor di dunia, memberi inspirasi bagi bangsa-bangsa lain seperti Vietnam, Aljazair, Afrika Selatan hingga Amerika. Peran penting Indonesia juga tampak dalam Konferensi Asia-Afrika 1955 dan Gerakan Non-Blok yang menjadikannya pusat solidaritas negara-negara dunia ketiga.
Namun kini, setelah pernah dijuluki sebagai “Macan Asia”, Indonesia menghadapi tantangan stagnasi dan kembali pada ketergantungan ekspor sumber daya alam, tertinggal dari Korea Selatan, Tiongkok, dan India. Akar masalah terletak pada mutu manusia dan karakter bangsa yang belum berkembang optimal. Bung Karno menekankan bahwa besar kecilnya bangsa ditentukan kualitas manusia, bukan jumlah penduduk. Bung Hatta pun menegaskan perlunya mentalitas unggul, keluasan pandangan, dan kekuatan karakter agar bangsa bisa maju.
Indonesia sebagai bangsa majemuk menghadapi tantangan menjaga persatuan di tengah keragaman agama, etnis, bahasa, politik, dan sosial. Insting manusia yang cenderung berkumpul dengan kelompok serupa bisa menimbulkan prasangka jika tidak dikelola dengan baik. Karena itu, diperlukan keterbukaan, perluasan jaringan pergaulan, serta inklusivitas agar lahir saling pengertian dan rasa percaya antarwarga. Persatuan tak cukup dijaga oleh aparat negara, tapi harus dibangun melalui mutual trust dan pemerataan akses pendidikan, kesehatan, ekonomi, hukum, serta politik. Prinsip Bhinneka Tunggal Ika menjadi pengingat bahwa perbedaan bukanlah sumber perpecahan, melainkan kekuatan jika diikat oleh nilai bersama.
Untuk mewujudkan hal tersebut, integritas menjadi fondasi utama. Integritas adalah modal moral yang membuat bangsa saling percaya dan kokoh. Tanpa integritas, bangsa akan rapuh dan mudah terpecah. Pancasila hadir sebagai landasan moral dan etika bersama, bukan sekadar kompromi politik, melainkan titik temu nilai universal dari agama dan filsafat: spiritualitas, kemanusiaan, kebijaksanaan, keadilan, serta kebangsaan. Nilai-nilai ini bahkan sejalan dengan prinsip Maqasid Syariah yang menjaga agama, jiwa, keturunan, akal, dan harta.
Dengan demikian, perjalanan Indonesia sebagai bangsa pelopor hanya bisa dilanjutkan jika generasi muda, terutama mahasiswa, mampu menunaikan tanggung jawab moral atas kehormatan yang dimiliki. Melalui penguatan kualitas manusia, inklusivitas, integritas, serta pengamalan Pancasila, Indonesia dapat menjadikan keragaman sebagai kekuatan dan kembali memimpin sebagai bangsa pelopor di abad ke-21
MATERI II : ERISANDY YUDHISTIRA
PRIORITY BANKING MANAGER BANK MANDIRI
TEMA : PENGUATAN LITERASI KEUANGAN DAN KESEJAHTERAAN MAHASISWA
Literasi keuangan sangat penting bagi mahasiswa karena mereka sedang berada pada masa transisi untuk mengelola uang sendiri. Tantangan yang dihadapi antara lain biaya kuliah, biaya hidup, tekanan gaya hidup, serta risiko utang. Literasi keuangan yang baik dapat meningkatkan kesejahteraan finansial, akademik, mental, dan masa depan mahasiswa.
Strategi penguatan literasi keuangan mencakup peran kampus (integrasi ke kurikulum, workshop, konseling, platform digital, kolaborasi eksternal), peran komunitas/mahasiswa (klub literasi, mentoring, kampanye), serta peran individu (mencari informasi, membuat anggaran, menabung, dan membangun mindset sehat).
Dampak positifnya antara lain mahasiswa lebih mampu mengelola uang, mengurangi stres, fokus belajar meningkat, memiliki kebiasaan menabung/investasi, dan lebih siap menghadapi masa depan. Meski ada tantangan seperti minat rendah atau keterbatasan sumber daya, solusi bisa ditempuh dengan pendekatan menarik (gamifikasi, studi kasus), kolaborasi, ruang diskusi aman, dan pelatihan praktis
MATERI III : PROF. KACUNG MARIJAN, Drs., MA.,Ph.D
WAKIL REKTOR 1 UNUSA
TEMA : SISTEM PENDIDIKAN TINGGI DI UNUSA
UNUSA memiliki berbagai fakultas, di antaranya: Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, Ilmu Kesehatan, Sains dan Teknologi, Ekonomi dan Bisnis, Agama Islam, Psikologi, serta Hukum. Jenjang pendidikan meliputi S1, D3, dan profesi.
Sistem pembelajaran menggunakan SKS dengan kurikulum nasional yang dipadukan dengan kurikulum khas UNUSA (Aswaja, Ke-NU-an), serta mendukung program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Metode pembelajaran dilakukan secara tatap muka, blended learning, dan berpusat pada mahasiswa dengan penilaian melalui UTS, UAS, tugas, kehadiran, serta praktik.
Penerimaan mahasiswa baru dilakukan melalui berbagai jalur, seperti jalur prestasi, ujian mandiri, SPAN-PTKIN, UM-PTKIN, dan jalur hafidz/hafidzah. Biaya kuliah meliputi SPP, biaya semester, dan biaya praktikum, dengan dukungan beasiswa serta sistem cicilan.
UNUSA menerapkan sistem penjaminan mutu melalui akreditasi BAN-PT, evaluasi kurikulum, audit mutu internal, dan tracer study. Fasilitas yang tersedia meliputi perpustakaan, laboratorium, layanan akademik dan kemahasiswaan, rumah sakit pendidikan, serta sarana ibadah dan umum lainnya.
Ciri khas UNUSA terletak pada integrasi nilai Aswaja, kekuatan di bidang kesehatan, keterlibatan masyarakat melalui KKN, dan lingkungan kampus religius yang moderat serta inklusif.
Link teman saya : Alya Reva Natasya



Comments
Post a Comment